GAME

Jumlah Game Online Dibatasi, Tencent Rugi Ratusan Triliun

Kantor utama Tencent di ShenZhen, Tiongkok. (Foto: Zhu Min/Zuma Press)

Kate.id – Pengetatan aturan pemerintah Tiongkok terhadap video game online mulai berdampak. Karena aturan ini, perusahaan teknologi asal Tiongkok, Tencent mesti menderita kerugian hingga USD 20 miliar atau setara Rp 294,8 triliun, Jumat (31/8/2018) lalu.

Sebagai perusahaan video game dan media sosial, pengetatan aturan oleh Pemerintah Tiongkok ini menjadi tantangan tersendiri bagi Tencent. Sebelumnya, Kementerian Pendidikan Tiongkok telah menerbitkan regulasi yang membatasi jumlah game online baru. Kebijakan ini ditempuh sebagai upaya membatasi waktu anak muda bermain game dan menerapkan sistem kelayakan usia bagi pemain.

Munculnya regulasi ini merupakan tanggapan pemerintah terkait fakta bertambahnya penderita miopi atau masalah penglihatan dekat pada anak muda di Tiongkok. Arahan moratorium ini disisipkan pada dokumen yang dipublikasikan  kementerian tersebut.

Ilustrasi “Honour of Kings”, salah satu game online buatan Tencent.

Tencent sempat menyalahkan aturan pembatasan jumlah video game online baru tersebut. Aturan ini dianggap sebagai penyebab penurunan pendapatan perusahaan pada kuartal pertama dalam 13 tahun terakhir.

Reuters melaporkan,Tencent kehilangan lebih dari USD 160 juta atau setara Rp 2,3 kuadriliun dari valuasi tertinggi pada Januari silam. Ketidakpastian regulasi pemerintah menjadi faktor utama merosotnya nilai perusahaan sejak menguasai 42 persen pangsa pasar game ponsel di Tiongkok pada 2017.

Menanggapi kebijakan pemerintah Tiongkok, Tencent mengumumkan rencana untuk membatasi waktu bermain game untuk pemain berusia muda. Terutama untuk salah satu game mereka berjudul “Honour of Kings” atau di Indonesia dikenal dengan nama “Arena of Valor”.  Hal ini ditempuh setelah perusahaan menerima banyak komplain mengenai kecanduan yang dialami anak-anak atas game tersebut.

BUTA KARENA BERMAIN GAME

Munculnya regulasi ini sendiri cukup beralasan, khususnya sebagai respons terhadap gangguan penglihatan. Di Tiongkok, tercatat seorang perempuan berusia 21 tahun menjadi buta setelah bermain game “Honour of Kings” di ponselnya nonstop sepanjang hari.

Seorang anak bermain “Honour of Kings” di Dezhou, Provinsi Shandong, Tiongkok.
(Foto: Reuters)

Perempuan tersebut didiagnosis mengalami “retinal artery occlusion” pada mata kanannya. Dokter menyatakan, kasus medis tersebut biasanya terjadi pada orang-orang lanjut usia dan jarang terjadi pada generasi muda. Kemungkinan besar kebutaan yang dialami perempuan tersebut dikarenakan kelelahan mata yang kronis.

Perempuan yang merupakan pekerja di bidang keuangan itu sendiri mengaku menjadi sangat terobsesi dengan game yang dimainkannya. Dia memainkannya sepulang kerja dan seharian di akhir pekan.

“Di hari ketika saya tidak bekerja, saya biasanya bangun pukul 06.00. Sarapan dan bermain sampai pukul 16.00,” kisahnya. “Kemudian saya makan, tidur, dan bermain sampai pukul 01.00,” sambung perempuan yang mengaku menyesal karena tidak mendengarkan kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya diketahui telah membujuk perempuan itu untuk berhenti bermain game, dengan alasan bisa menyebabkan kebutaan. (*)

Writer: Tony Borneo

Comments

BERITA TERBARU

To Top