HUKUM & KRIMINAL

Pungli SIM, Kapolres Kediri Terciduk OTT Tim Saber Pungli

ilustrasi pungli

KEDIRI, Kate.id – Tim sapu bersih (Saber) pungutan liar (Pungli) Mabes Polri terus bergerak melakukan tugasnya. Terbaru, Tim Saber Pungli Mabes Polri melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Kapolres Kediri berinisial EH.

Dalam OTT yang berlangsung Sabtu (18/8/2018) tersebut, Tim Saber Polri mengamankan uang tunai senilai Rp 40 juta dari tangan sang kapolres. Uang tersebut diduga merupakan hasil pungutan di di luar penerimaan negara bukan pajak (PNPB) dari layanan surat izin mengemudi (SIM) periode 13 hingga 16 Agustus 2018.

EH bukan satu-satunya yang diamankan Tim Saber Pungli Mabes Polri. Selain Kapolres, tim turut mengamankan lima calo, masing-masing berinisial Har (36) Bud (43), Dwi (30) Alex (40) Yud (34), serta seorang anggota PNS berinisial An.

“Mereka semua diperiksa di Mabes Polri,” kata Kombes Frans Barung Mangera selaku Kabid Humas Polda Jatim,  Rabu (22/8/2018).

Dalam OTT tersebut, tim meminta keterangan dari belasan anggota polisi, pegawai negeri sipil (PNS), pegawai harian lepas, sampai petugas Bank BRI.  Rincian barang bukti yang diamankan meliputi berkas pemohon SIM, rekapan pungutan di luar penerimaan negara bukan pajak, sejumlah Rp 71.177.000 serta uang sebesar Rp 18,45 juta dari petugas bank yang belum bisa dipertanggungjawabkan serta 30 unit ponsel.

Dari keterangan Polda Jatim, diketahui bila pungli tersebut mengalir ke sejumlah pejabat polisi di Polres Kediri. Mulai dari Kapolres, Kasatlantas, hingga beberapa pejabat di bawahnya. Nominalnya beragam yang diberikan dalam jangka waktu tertentu secara periodik.

Melalui pungli ini, para pemohon SIM dikenakan biaya di luar penerimaan negara bukan pajak. Nominalnya bervariasi, mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 650 ribu per orang, tergantung jenis SIM yang dibuat.

Kasus OTT yang menyeret Kapolres Kediri ini dibenarkan Kadiv Propam Polri Brigjen Pol Listyo Sigit Prabowo. Dalam hal ini, EH dianggap melakukan pelanggaran profesi dan kode etik karena terbukti terlibat dalam kasus dugaan pungutan liar di Satpas Polres Kediri.

Atas tindakannya tersebut, sang Kapolres terancam sanksi mulai dari demosi hingga Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH). “Kami usulkan posisinya (EH) untuk dievaluasi. Dan terhadap perbuatannya akan kami proses,” ungkap Listyo, Selasa (21/8/2018).

Dengan diamankannya Kapolres Kediri, Listyo berharap kasus ini dapat menjadi pelajaran bagi anggota lainnya di Korps Bhayangkara. Agar tak melakukan sesuatu yang merugikan institusi kepolisian.

Dia berujar, para oknum yang melakukan pungli hanyalah segelintir  saja. Namun akibat perbuatan mereka, nama mayoritas anggota Polri yang telah bekerja untuk melayani masyarakat dengan baik jadi ikut tercoreng.

Sehingga, dia memberikan pesan kepada seluruh jajarannya, agar dapat terus bekerja dengan baik dan tidak merugikan institusi. “Semua itu agar dipercaya publik. Pendekatan pelayanan. Sehingga harapan kita Polri semakin dipercaya masyarakat,” imbuhnya.

Ruang pelayanan SIM di Polres Kediri. (Foto: Tony Borneo/Kate.id)

DIMINATI HINGGA LUAR DAERAH

Adanya praktik pungli ini dibenarkan salah seorang warga Kediri berinisial ML. Pria yang pernah mengurus SIM C di Polres Kediri ini menyatakan, pernah melihat oknum petugas polisi yang menawarkan jasa calon SIM kepada pemohon SIM. Bahkan dia sendiri pernah ditawari menggunakan jasa calon saat akan memperpanjang SIM.

“Bahkan ada yang datang dari luar daerah jauh-jauh ke Kediri untuk mengurus SIM karena prosesnya dipermudah (lewat calo, Red.),” beber ML kepada Kate.id.

Menurut ML, adanya pungli di lingkungan Polres Kediri mencoreng nama baik institusi kepolisian. Padahal menurut dia, di lingkungan Polres Kediri banyak terpampang poster imbauan untuk menghindari praktik percaloan. “Dalam poster itu juga tertulis hukuman bagi para pelaku pungli,” imbuhnya.

Bukan hanya di Kediri, pria yang bekerja sebagai wiraswasta ini mengatakan, praktik sejenis bisa saja terjadi di daerah lain. Dari pengalamannya saat mengurus dokumen kendaraan di Polres daerah lain, ML mengaku pernah menjadi korban calo.

“Saya tidak tahu kalau saya sedang berhadapan dengan calo. Karena yang menangani petugas polisi. Saya kira memang begitulah prosesnya. Ternyata setelah dokumen selesai, saya dimintai uang. Karena saya buru-buru dan tak mau ribet, ya saya kasih saja,” tutur ML. (*)

Writer: Tony Borneo

Comments

BERITA TERBARU

To Top