NASIONAL

Sultan AM Salehuddin II Mangkat, Kesultanan Kutai Berduka

Sultan AM Salehuddin II semasa hidup, melakukan tradisi Bapelas Erau. (Foto: Haryo Abdi/Pemkab Kukar)

KUTAI KARTANEGARA, Kate.id – Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim) berduka. Sang Sultan, Adji Muhammad (AM) Salehuddin II mangkat berpulang ke rahmatullah, Ahad (5/8/2018) lalu sekira pukul 09.30 Wita.

Pihak kesultanan dan juga masyarakat Kukar serta Kaltim tak menyangka kepergian Sang Sultan untuk selamanya tersebut. Hal ini dikarenakan Sultan sebelumnya terlihat sehat kala menghadiri sejumlah acara dalam perayaan Erau Adat Kutai International Folk Arts Festival (EIFAF) 2018.

Malahan, Sang Sultan sempat memberikan sejumlah gelar kesultanan kepada tokoh-tokoh Kaltim dalam perayaan Erau tersebut. Pun begitu, Sultan sempat bertemu dengan Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, dan pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim yang baru terpilih dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kaltim 2018, Isran Noor-Hadi Mulyadi. Praktis Erau tahun ini menjadi perayaan terakhir yang dihadiri Sang Sultan.

Sultan AM Salehuddin II semasa hidup, bersama Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak. (Foto: Humas Pemkab Kukar)

Sejatinya, dua pekan sebelum Erau digelar, Sultan sempat rawat inap di RSUD AM Parikesit, Kukar selama dua pekan. Namun informasi ini hanya beradar di kelangan keluarga. Hal ini dikarenakan Sultan kerap beberapa kali jatuh sakit, namun perlahan berangsur sembuh. Sehingga putra AM Parikesit tersebut tetap memimpin sejumlah kegiatan adat di Erau.

“Beliau dirawat sekira dua pekan. Tapi sempat keluar rumah sakit dan kondisinya mulai membaik ketika Erau. Nah, saat dibawa ke rumah sakit tadi (Ahad, 5/8/2018), detak nadinya seperti melemah,” tutur Raden Dedi, cucu sekaligus ajudan Sultan.

Dia bertutur, AM Salehuddin II sempat sarapan pagi sebagaimana biasanya. Sehingga, pihak keluarga tidak menyangka bila Sultan bakal meninggalkan kesultanan untuk selama-lamanya. Pihak keluarga menyatakan, Sultan tidak mengidap penyakit kronis. Wafatnya Sang Sultan disebut dikarenakan usianya yang telah senja. Lahir pada 24 Oktober 1924, AM Salehuddin II mengembuskan napas terakhir di usia 93 tahun.

AM Salehuddin II lahir dari pasangan Sultan AM Parikesit dan Ratu Prabu Ningrat. Masa kecilnya dihabiskan di Kota Raja Tenggarong, hingga di 1938 meneruskan pendidikan setingkat SMP di Jakarta dan Bandung. Lantas tepat pada hari jadi kedua Republik Indonesia (RI), tepatnya 17 Agustus 1947, AM Salehuddin II menikahi Aji Aida Amidjoyo. Bertepatan dengan peringatan HUT RI tahun ini, Sang Sultan semestinya memperingati hari ulang tahun pernikahan ke-71.

Tiga bulan setelah menikah, AM Salehuddin II pergi ke Belanda demi menempuh pendidikan setingkat SMA. Selanjutnya di negeri Kincir Angin, pada 1949 dia meneruskan ke perguruan tinggi, tepatnya Fakultas Endology Universitas Leiden.

Pendidikan di Belanda membuat Sang Sultan fasih menggunakan bahasa Belanda di lingkungan kerajaan. Baik secara lisan maupun tulisan. Dengan pengalaman itu, di 1951 AM Salehuddin II dipanggil oleh sang ayah, Sultan Kutai kala itu, AM Parikesit untuk kembali ke tanah air. Untuk kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia.

Setelah semua pendidikan tingginya selesai, Salehuddin kembali ke Tenggarong dan bekerja sebagai pegawai negeri di kantor daerah di Samarinda. Lalu di 1955, pindah ke Tenggarong untuk mengabdi di Dinas Pendapatan Daerah. Dia bekerja di organisasi perangkat daerah (OPD) tersebut hingga pensiun.

Sultan AM Salehuddin II semasa hidup, menerima kunjungan delegasi negara sahabat. (Foto: Humas Pemkab Kukar)

Gelar Sultan yang diemban AM Salehuddin II sendiri tak lantas didapatkannya ketika sang ayah mangkat. Melainkan, baru disandangnya kembali di awal millennium ketiga, tahun 2001. Kala itu usulan Bupati Kukar Syaukani Hasan Rais untuk menghidupkan kembali Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura disetujui Presiden RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Atas persetujuan Gus Dur tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar melakukan penobatan putra mahkota Sultan Parikesit, AM Salehuddin II menjadi Sultan Kutai Kartanegara kedua puluh. Setelah sebelumnya, pada 1960 Sultan AM Parikesit menyerahkan kekuasaan kesultanan kepada pemerintah RI.

Meski menyandang gelar sultan sejak awal Abad 21, namun kewenangan AM Salehuddin sebagai sultan tak sama dengan kewenangan di masa lampau. Hal ini dikarenakan dikembalikannya kesultanan hanya symbol yang bertujuan melestarikan sejarah dan kebudayaan Kutai. Kewenangan memerintah di Kukar tetap berada di tangan Bupati Kukar.

Kepergian Sang Sultan sendiri mendapat penghormatan dari berbagai elemen masyarakat Kaltim. Beragam ucapan duka tampak di dunia nyata maupun di dunia maya. Sosoknya dikenal sebagai pribadi yang sederhana, humoris, supel, dan mudah membaur dengan semua lapisan masyarakat. Sang Sultan yang hobi berburu ini pun kini bersemayam di pembaringan terakhirnya, di Kompleks Museum Mulawarman, berdampingan dengan makam sultan-sultan Kutai pendahulunya. (ton)

Writer: Tony Borneo

Comments

BERITA TERBARU

To Top