EKONOMI & BISNIS

Pakai Empat Pertimbangan, Blok Migas Terbesar di Indonesia Diserahkan ke Pertamina

Kawasan pengelolaan Blok Rokan, di Provinsi Riau (Foto: Enjephotography)

JAKARTA, Kate.id – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memutuskan untuk memercayakan pengelolaan Blok Rokan, di wilayah Provinsi Riau kepada PT Pertamina. Setelah sebelumnya dikelola PT Chevron Pacifik Indonesia yang merupakan perusahaan energi.

Dalam rilis pers 31 Juli 2018, dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM dijelaskan, keputusan ini murni diambil atas dasar pertimbangan bisnis dan ekonomi. Setelah mengevaluasi dan membandingkan pengajuan proposal Pertamina dengan Chevron. Hasilnya, proposal Pertamina yang dinilai lebih baik dalam mengelola blok terbesar di Indonesia tersebut.

Kondisi ini didasari dengan signature bonus yang disodorkan Pertamina sebesar USD 784 juta atau sekira Rp 11,3 triliun dan nilai komitmen pasti sebesar USD 500 juta atau Rp 7,2 triliun dalam menjalankan aktivitas eksploitasi migas. Besarnya angka tersebut juga membuktikan finansial Pertamina masih dalam kondisi baik.

Terpilihnya Pertamina sebagai pengelola, dijelaskan, secara embrio akan meningkatkan kontribusi Pertamina terhadap produksi migas nasional. Sejauh ini porsi Pertamina produksi migas nasional telah meningkat dari sekitar 23 persen menjadi sebesar 36 persen pada tahun 2018. Dan diproyeksikan pada 2019 mencapai 39 persen saat blok migas terminasi mulai aktif dikelola Pertamina.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengungkapkan, nilai tambah yang didapat dari keputusan ini adalah menjadikan Pertamina sejajar dengan world top oil company yang mampu menguasai 60 persen produksi migas nasional pada 2021.

PT Chevron Pacifik Indonesia sudah mengelola Blok Rokan sejak 1971. (Foto: petro times) 

Blok Rokan sendiri termasuk blok migas yang bernilai strategis, yang sebelumnya dikelola oleh Chevron. Perusahaaan energi asal Amerika tersebut mengelola Blok Rokan sejak 1971 hingga 2021 mendatang dengan masa kontrak selama 50 tahun.

Produksi migas blok rokan menyumbang 26 persen dari total produksi migas nasional. Blok yang memiliki luas 6.220 kilometer ini memiliki 96 lapangan. Tiga di antaranya menghasilkan minyak sangat baik yaitu Duri, Minas, dan Bekasap. Tercatat sejak beroperasi 1971 hingga 31 Desember 2017, total minyak di Blok Rokan mencapai 11,5 miliar barel.

EMPAT DASAR PERTIMBANGAN ATAS KEPUTUSAN BLOK ROKAN

Arcandra Tahar menyebut, ada empat dasar pertimbangan fundamental yang diambil dalam menyerahkan Pengelolaan Blok Rokan tersebut.

“Tim 22 Wilayah Kerja (WK) sudah bekerja mengevaluasi (proposal) yang akhirnya berkesimpulan empat hal yang menjadi dasar kita (Pemerintah) memilih Pertamina,” jelas Arcandra saat konferensi pers di Gedung Sekretariat Jenderal Kementerian ESDM di Jakarta, Selasa (31/7/2018).

Pertimbangan pertama, Pertamina dalam proposalnya telah mengajukan bonus tanda tangan (signature bonus) sebesar USD 784 juta atau sekira Rp 11,3 triliun. Bonus tanda tangan ini nantinya akan masuk ke kas negara.

Pertimbangan kedua, menurut Arcandra, besaran nilai komitmen kerja pasti untuk investasi yang diberikan oleh Pertamina selama 5 tahun awal senilai USD 500 juta atau sekira Rp 7,2 triliun. Ketiga, meningkatnya potensi pendapatan negara selama 20 tahun setelah mendapatkan potensi pemasukan sebesar USD57 miliar atau sekira Rp 825 triliun rupiah.

“Insyaallah potensi pendapatan ini bisa menjadi pendapatan dan kebaikan bagi kita bangsa Indonesia,” harap Arcandra.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar (tengah) bersama Kepala SKK Migas Amin Sunaryadi (kanan), saat konferensi pers di Gedung Sekretariat Jenderal Kementerian ESDM di Jakarta, Selasa (31/7). (Foto: esdm.go.id)

Pertimbangan terakhir, diakuinya, adanya diskresi dari Menteri ESDM Ignasius Jonan. Keputusan diskresi ini didasarkan pada perubahan sistem fiskal dari Cost Recovery menjadi Gross Split.

“Karena ini Gross Split, Pertamina meminta diskresi sebesar 8 persen dan pemerintah sepakat usulan tersebut,” ujar Arcandra. Diskresi yang dimaksud yaitu tambahan bagi hasil (split) yang diminta oleh kontraktor kepada Pemerintah agar keekonomian proyek lebih baik.

Melalui pertimbangan bisnis tersebut, pemerintah memutuskan untuk memercayakan pengelolaan Blok Rokan kepada Pertamina setelah membandingkan dengan proposal yang diajukan oleh Chevron. “Penawaran dari Chevron jauh di bawah penawaran dari Pertamina,” tegasnya.

Sebagaimana diketahui, sejak 1971 pengelolaan Blok Rokan telah dipegang Chevron. Produksi blok tersebut cukup menjanjikan, mampu memproduksi sekira 207 ribu barel minyak per hari (bph) pada Semester I 2018.

Kepala Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas Amin Sunaryadi menjelaskan, setelah keputusan ini akan ada kerja sama masa transisi pengelolaan yang akan dilakukan antara pihak Pertamina dan Chevron. Sebelum akhirnya pengalihan secara penuh tahun 2021 mendatang. “Untuk melakukan kegiatan-kegiatan transisi sampai dengan masa kontrak habis guna menjaga tingkat produksi supaya tidak turun,” pungkas Amin. (lim)

Writer: Sandy Hidayat
Editor: Tony Borneo
Comments

BERITA TERBARU

To Top