METROPOLIS

Jumlah Penduduk Miskin Meningkat, Rokok Jadi Pemicunya

Kebiasaan merokok menjadi salah satu pemicu meningkatnya jumlah penduduk miskin di perkotaan. (foto: komunitaskretek.or.id)

SAMARINDA, Kate.id – Jumlah penduduk miskin di Kaltim meningkat. Hal ini diikuti garis kemiskinan yang juga meningkat. Diantara pemicu tertinggi garis kemiskinan itu adalah konsumsi rokok dan beras.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, jumlah penduduk miskin pada September 2017 adalah 218,67 ribu. Angka itu naik menjadi 218,90 ribu pada Maret 2018. Artinya, selama rentang tujuh bulan, penduduk miskin Kaltim naik 23.000 orang.

Adapun untuk sebarannya, penduduk miskin di pedesaan selalu dominan. Pada September 2017 saja, jumlah penduduk miskin dari pedesaan sebanyak 116,28 ribu, naik pada Maret 2018 menjadi 118,44 ribu. Pemandangan berbeda justru berbeda bagi masyarakat perkotaan.

Semula jumlah penduduk miskin perkotaan adalah 102,39 ribu dan turun menjadi 100,45 ribu. “Secara persentase memang menurun, dari 6,08 persen menjadi 6,03 persen,” terang Kepala BPS Kaltim, Atqo Mardiyanto.

Atqo menjelaskan penduduk miskin adalah kelompok masyarakat dengan pendapatan per kapita di bawah garis kemiskinan. Pihaknya menjelaskan selama September 2017 hingga Maret 2018, garis kemiskinan naik 2,28 persen. Yaitu dari pendapatan per kapita Rp 561.868 per bulan menjadi Rp 574.704.

“Pengeluaran terbesar penyumbang garis kemiskinan adalah beras dan rokok,” jelasnya. Persentasenya pun berbeda antara masyarakat perkotaan dan pedesaan. Pada masyarakat perkotaan, persentase konsumsi beras adalah 25,26 persen dan rokok 16,11 persen. Sedangkan di pedesaan konsumsi beras lebih tinggi yakni 26,87 persen dan rokok 16,94 persen.

Pihaknya menjelaskan konsumsi dua komoditas penyumbang kemiskinan itu harus ditekan. Salah satunya dengan bantuan non tunai pangan. Atqo menerangkan program seperti beras miskin (raskin) atau beras sejahtera (rastra) dianggap mampu menekan pengeluaran bagi konsumsi beras.

“Kalau mereka dapat bantuan (beras, Red.), tentu pengeluaran jadi lebih ringan. Itu cukup mengurangi beban hidup,” ungkap Atqo.

Dengan kata lain keberadaan bantuan dianggap sangat memengaruhi kehidupan penduduk miskin. “Rekomendasi kami bantuan itu jangan sampai terputus atau terlambat, enggak boleh. Sebanyak mungkin yang berhak menerima harus tersalurkan,” tambah dia.

Itu untuk jenis makanan. Untuk jenis non makanan, perumahan termasuk komoditas perkotaan penyumbang kemiskinan dengan 37,66 persen. Pedesaan justru lebih tinggi yakni 42,06 persen. Ada 15 komoditas, namun untuk masyarakat pedesaan persentasenya rata-rata lebih tinggi.

“Misalkan daerah perkotaan pengeluaran terbesar adalah perumahan, listrik, dan bensin. Sedangkan pedesaan perumahan, bensin baru listrik,” bebernya. “Tapi secara keseluruhan garis kemiskinan di kota lebih tinggi dibandingkan di desa,” tutupnya. (Sapos)

 

Sumber: Koran Sapos

Comments

BERITA TERBARU

To Top